Di satu sore yang indah, saya berdiri di ruas jalan Solo, Yogyakarta, di depan Toserba Gardena. Puluhan toko berjejer dari arah timur ke barat, di sisi utara dan selatan jalan. Ratusan bahkan ribuan barang bertengger di etalase toko-toko itu.
Sebuah barang kecil di etalase sebuah toko di samping Gardena tiba-tiba mengingatkan kepada kebiasaan seorang sahabat yang tinggal di Semarang; Haris namanya. Kami memanggilnya Haris Semarang. Panggilan ini untuk membedakannya dengan Haris Kungfu yang belajar kungfu, Haris Madu yang jualan madu dan, Haris Tuntang yang berasal Tuntang, sebuah desa, tidak jauh dari Salatiga. Empat-empatnya adalah teman saya juga.
Haris Semarang ini punya kebiasaan yang sangat bagus ditiru. Setiap kali ia ke Yogya, ia pasti membawa bingkisan-bingkisan kecil yang jumlahnya sebanyak teman yang akan dikunjunginya di Yogya. Ia suka sekali membagi-bagikan hadiah kepada kami, meski hanya beberapa potong kue yang dibungkus dengan rapi.
Saya masih berdiri di depan Gardena.
Yah.. kita hanya butuh sedikit kelapangan hati untuk menyisakan sedikit rizki, membeli sebuah produk sederharna, kemudian mengemasnya dengan sangat hati-hati, dengan indah, lalu menyisipkan sebuah kartu ucapan. Lalu memberikannya sebagai bingikisan untuk suami, istri, anak, bapak, ibu, untuk orang-orang yang telah banyak berjasa kepada kita, atau kepada rekan kerja di kantor. Mereka yang telah menjalin kerja sama yang baik dengan kita selama ini. Bukan berapa besar uang yang harus kita keluarkan, tetapi seberapa besar penghargaan kita atas jasa mereka. Seberapa lama hubungan manis ini akan kita rajut bersama mereka.
Berikan bingkisan ini kepada suami, istri, anak, bapak, ibu atau rekan kerja kita. Kita mungkin belum bisa menjadi suami seperti yang diidamkan istri. Belum bisa menjadi istri yang mampu membuat suami lebih memilih makanan rumah daripada jajanan kuliner di luar rumah. Belum bisa menjadi anak yang sanggup membahagiakan orang tua, belum bisa berlaku moderat ke anak, atau belum mampu menjadi rekan kerja yang baik, bukan teman bicara yang mengerti keluh kesah sahabat, menjadi solusi bagi permasalahan kawan. Kita mungkin belum bisa menjadi pemimpin yang baik, yang belum menyediakan ruang kerja yang menyenangkan, atau memberi upah yang mencukupi seluruh kebutuhan karyawan kita. Namun, kita bisa memberikan sekotak bingkisan dari lubuk hati yang paling dalam. Percayalah, pemberian yang berasal dari hati, akan selalu singgah di hati.
Hampir saja tombol “publish” di kanan atas ini saya tekan, tiba-tiba teringat ungkapan manis dari Kanjeng Nabi
“Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai”
Keep Your Smile
*Gambar pinjem dari sini





stuju daeng, memang ndk perlu barang mahal, tapi dengan diingat sampai diberikan hadiah itu sangat menyenangkan…….
Saling melekatkan hubungan
saya langsung teringat dengan teman2 saya di Singapore..
kami selalu berbagi bingkisan, entah itu dibeli atau dibuat sendiri..
hal itu yang membuat kami saling menyayangi dan rapat walau kami berjauhan..
jadi kangen mereka deh.. :’)
Kapan saya diberi hadiah kaka?
bagaimana kabarnya itu si haris semarang sekarang?
Kabarnya baik, masih melakukan kebiasan baiknya