“Pak-pak, jangan banyak-banyak Ya.”
“Pembeli adalah raja” Istilah yang identik dengan jual beli dan pelayanan jasa bisa jadi jadi sudah dianggap kuno. Namun istilah ini masih relevan untuk dipraktekkan.
Istilah ini bisa diartikan bahwa pembeli barang atau jasa berhak mendapatkan pelayanan sebaik mungkin. Hubungan antara pembeli adalah hubungan saling menguntungkan, karena penjual barang atau jasa membutuhkan pembeli agar produk barang atau jasa yang dihasilkan terjual, sedangkan pembeli membutuhkan penjual untuk memenuhi kebutuhan akan barang atau jasa tersebut. Sebagian penjual barang atau jasa masih menerapkan istilah ini, dengan tujuan pembeli akan menjadi pelanggan setia, atau ikut mempromosikan ke orang lain.
Sabtu kemarin, saya membawa Hatim (kakak) ke tempat potong rambut. Karena alasan waktu, saya membawanya ke tempat potong Madura, bukan ke salon seperti kebiasaan sebelumnya.
“Kenapa di sini buya?” Ucapannya di depan pintu tempat cukur Madura, memperlihatkan keraguan kakak.”
“Ga papa kakak, cuma dikit kok. Rapikan yang samping aja kan?” Saya mencoba membujuk.
“Oh, ya, ga papa.” Ujarnya.
Kakak punya kebiasaan, setiap kali rambutnya mau dipotong, dia selalu ngomong ke tukang cukurnya, “Pak, jangan banyak-banyak Ya,” sambil memegang rambut bagian belakang kepalanya.
Karena melihat anggukan bapak si tukang cukur, kakak dengan tenang naik ke atas kursi.
Saya pun tak lupa berpesan, “Pak, tolong dirapikan sedikit aja. Digunting samping dekat telinga aja Ya pak.” Bapaknya mengangguk pertanda mengerti.
Saya kemudian duduk di kursi yang disediakan untuk menunggu giliran sekaligus kursi bagi pengantar seperti saya. Baru saja saya mencoba membaca headline koran hari itu, saya mendengar kakak mengeluh. Rupanya si bapak tukang cukur, menggunakan wahl styler haircut. Atau lebih dikenal dengan istilah kuda-kuda. Dan langsung menggasak rambut di atas tengkuk.
“Waduh, masalah nih.” Saya membatin.
Sekilas saya melihat wajah kakak terlihat kurang suka.
Belum selesai kekhawatiran itu, tiba-tiba si bapak tukang cukur mengangkat hp-nya. Rupanya dia sedang bertelepon dengan kawannya. Entahlah, kelihatannya urusan bisnis. Saya hanya mendengar si bapak ngomongin kapal, ongkos angkut dan ngga tau lagi karena saya sendiri sudah jengkel.
Bisa kita bayangkan perasaan kakak. Hati lagi dongkol, eh malah ditinggal nelpon lama.
Selesai menelpon, bapak tukang cukur bermaksud melanjutkan kerjanya. Mungkin karena sudah dongkol, kakak melompat dari kursi. Dia minta distop aja. “Ga usah dilanjutkan,” Katanya terlihat jengkel. Padaha rambur masih pitak sana-sini
Akhirnya setelah sedikit membujuk, kakak mau meneruskan sekadar untuk “sedikit” merapikan rambut bagian belakang yang tadi disikat oleh “kuda-kuda” tukang cukur.
Timbul masalah baru, ketika mengarahkan kepala, tangan si bapak terlihat kasar. Dan, terlihat sekali kalau kakak ga nyaman.
Untuk kedua kalinya kakak melompat dari kursi. Syukurlah sudah kelihatan lebih rapi dari sebelumnya.
Akhirnya, saya putuskan untuk pulang saja dan memilih salon untuk merapikan rambut kakak.
Catatan saya, si bapak tukang cukur tidak memperhatikan istilah “pembeli adalah raja” dan akibatnya, saya pasti dan pasti tidak akan kembali ke tempat itu lagi. Dan alhamdulillah, saya tidak menunjukkan tempat cukur yang tidak bagus ini ke orang lain.
Masih kasihan
*Gambar pinjam dari Solo Pos




Mamie
Jun 22. 2011
ih beda sekali dengan kantor tempat saya kerja daeng, ini gara-gara tamu saya harus jadi ‘pelayan’ sampai malam lagi, tapi sebenarnya gak masalah sih asal dari hati
Jangankan jasa, menjual barang pun tetap harus memperlakukan pembeli dengan hati
banyak memang persediaan hati ku xixi
tqdr
Jun 22. 2011
Ballassi Hatim tawwa.
Iye mamie, asal tidak makan hatiji
iPul dg.Gassing
Jun 22. 2011
kodong..
jadi bemanami rambutnya kakak..?
ndak aneh ji keliatan ?
tqdr
Jun 22. 2011
Itumi, hari itu masih malu-malu kodong keluar. Sekarang tawwa bagusmi
aRuL
Jun 22. 2011
ini mi yg dibilang kerja tidak profesional
hehe, seharusnya kalo memang sedang mencukur, setidaknya lebih fokus dulu
*halah kyk saya tidak saja, selalu multitasking dg HP kalo kerja, hahaha*
tqdr
Jun 22. 2011
hahaha, tapi kalo kerjanya tidak langsung bersentuhan dengan pelanggan tidak terlalu parahji. Tidak seperti tukang cukur ini