Ngemis Pake CRV

Pengemis merupakan sosok yg akrab dengan kehidupan kita sehari-hari. Hampir di setiap hari kita temui sosok ini, baik di perempatan jalan, warung, pertokoan, dan di tempat-tempat lainnya. Bahkan terkadang kita sendiri dihampiri para pengemis dan dimintai uang oleh mereka.

Jika Anda tinggal di Makassar dan pernah belanja di Mall Panakkukang, Anda pasti menjumpai pengemis-pengemis kecil yang tak pernah berhenti merengek dan menadahkan tangan di pos pembayaran retribusi parkir.

Mengapa anak-anak ini mengemis? Ketika kita tanya alasannya beragam.  Ada yang menjawab, supaya bisa makan, rumahnya kebakaran, atau bapaknya pergi entah kemana.

Saya pikir bukan hanya di situ saja. Setiap hari Jum’at, pemandangan serupa begitu mudahnya kita jumpai di Masjid Raya. Bukan hanya di sini, di Makassar, di sudut-sudut kota Jakarta, di emperan toko Surabaya, di traffic light depan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, anjal dan pengemis gampai kita jumpai.

Sikap orang-orang yang dimintai oleh pengemis-pengemis cilik ini  beraneka macam. Ada yg memberi tanpa melihat nilai uang yangg diberikan. Ada yang mengibaskan tangan, tanda tidak mau keasikannya diganggu. Ada juga yang cuek, tidak peduli meski pengemis-pengemis ini  datang dan menghampiri.

Banyak alasan dari sikap-sikap mereka. Yang memberi cenderung beralasan bahwa mereka kasihan dan ingin membantu. Ada juga yang menganggap mereka pemalas, sehingga tidak perlu diberi. Dan, masih banyak lagi alasan lainnya

Bagi saya pribadi, setiap menjumpai pemandangan miris seperti itu, dua sosok dalam diri saya selalu berperang. Satunya mengatakan, “Kasih aja, kasihan.” Tetapi sosok yang satunya lagi mengatakan, “Jangan dikasih, Kamu hanya membuat ia menjadi semakin malas. Apalagi mungkin saja anak-anak itu hanya diperalat.”

Pertarungan ini terkadang dimenangkan oleh yang melarang, terkadang dimenangkan oleh yang menyarankan untuk memberi uang ke anak-anak jalanan itu.

Mengapa anak-anak jalanan dan pengemis itu masih terus saja meminta receh sisa bayaran retribusi parkir? Bukankah pemerintah telah mengeluarkan perda anjal

Apakah pemerintah merasa serba salah untuk menerapkan perda ini?Seperti saya yang selalu serba salah setiap bertemu dengan anak-anak itu. Yah…serba salah, memberi..berarti semakin membuat mereka males. Atau….jangan-jangan mereka hanya diperalat seseorang demi kepentingannya sendiri. Tidak memberi…kasihan. Kita kan juga punya anak kecil, adik kecil, atau ponakan yang usianya rata-rata seusia anak-anak jalanan ini. Apakah Anda juga pernah mengalami dilema seperti ini?

Suatu hari saya membaca sebuah berita yang sedikit membantu menemukan jalan keluar. Setidaknya membuat saya berpikir lebih banyak sebelum memberi uang kepada anjal/pengemis. Mungkin Anda pun akan merasa sama setelah melihat gambar berikut ini…

Siapakah orang ini?

Orang yang berdiri di depan mobil Honda CRV ini adalah seorang pengemis, tepatnya seorang bos pengemis. Cak To, begitu dia biasa dipanggil. Besar di keluarga pengemis, memulai karir dengan mengemis, lalu jenjang karirnya menanjak. Ia berubah menjadi bos puluhan pengemis di Surabaya. Hasil dari usahanya selama ini adalah dua sepeda motor, sebuah mobil gagah, dan empat rumah. Berikut kisah hidupnya.

Cak To tak mau nama aslinya dipublikasikan. Ketika di foto, ia idak mau memperlihatkan wajahnya.
Awalnya ia mengawali karirnya dengan ngemis. Setelah puluhan tahun menjalani profesinya, Cak To sekarang memang bisa lebih menikmati hidup. Sejak 2000, dia tak perlu lagi meminta-minta di jalanan atau perumahan. Cukup mengelola 54 anak buahnya, uang mengalir teratur ke kantong.
Menurutnya, penghasilannya saat ini adalah Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. Berarti, dalam sebulan, dia punya pendapatan Rp 6 juta hingga Rp 9 juta. Lebih dari gaji seorang PNS. Selain pendapatan perbulan, ia juga sudah memiliki sebuah rumah yang dibangun di atas tanah seluas 400 meter dan berlokasi di Surabaya bagian Barat. Di daerah asalnya, Madura, ia juga telah membangun dua buah rumah; satu untuk istrinya, satu untuk orang tuanya yang sudah renta. Selain itu, ia juga memiliki satu rumah di Kota Semarang.

Saat ini, hidup Cak To sudah enak. Untuk jalan-jalan, ia bisa mengendarai honda CR-V keluaran 2004 miliknya. Atau Honda Supra Fit yang dia beli juga dari hasil ngemis.

Untuk cerita lengkapnya, silahkan Anda baca di sini

Dan, sangat mungkin di daerah lain, ada Cak To – Cak To yang lain dengan nama yang lain pula.

Setelah Membaca kisah ini, silahkan Anda memilih, memberi, atau tidak memberi. Kalau saya sih, mending saya salurkan ke  orang-orang yang dengan ikhlas mengurus, membimbing, memberikan sekolah alternatif kepada orang-orang tak mampu seperti pengemis-pengemis cilik ini.

Jika  Anda peduli kepada pendidikan  dan masa depan mereka, Anda bisa berbagi  rizki yang Anda dapatkan ke Komunitas Pecinta Anak Jalanan ( KPAJ ). Sebuah komunitas sosial yang terdiri dari  sekumpulan anak muda yang percaya bahwa pengemis-pengemis cilik tadi (anjal)  juga mempunyai hak yang sama dalam pendidikan yang bisa mengubah jalan hidup anak-anak ini. Kita salut kepada mereka yang bergerak dengan dasar rasa kemanusiaan yang tinggi, dan mau meluangkan waktunya di saat mereka sebenarnya harus fokus memikirkan kuliah.

Anda bisa menemui mereka di seputaran kampus Unhas Tamalenrea. Atau bisa bersilaturahmi ke rumah mereka di dunia maya di sini

Tetap “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah”

 

 

Advertisement

Keyword Spyglass 300x250

10 Responses to “Ngemis Pake CRV”

  1. indobrad

    Aug 26. 2011

    mantap sekali sharingnya. memang dilematis, khususnya di bulan Ramadhan spt ini di mana banyak orang memberi lebih dengan alasan ibadah. Padahal ada solusi lain yang langsung menjangkau yang berhak :D

    Reply to this comment
    • tqdr

      Dec 03. 2011

      @Indobrad: Mending di salurkan ke badan yg memang mengaturnya ya brur

      Reply to this comment
  2. Ely Meyer

    Dec 01. 2011

    kasusnya sama spt di sini, pengemis dikelola oleh mafia biasanya dtg dr rumania, slowakia dan negara2 eropa timur

    Reply to this comment
    • tqdr

      Dec 03. 2011

      Oww..baru tahu kalo di Jerman juga gitu. Makasih dah mampir. Salam kenal ya mbak *sallim*

      Reply to this comment
  3. Outbound Malang

    Dec 07. 2011

    berkunjung sob..salam blogger
    sukses selalu ..:)

    Reply to this comment
  4. Medizet

    Jan 05. 2012

    Gila..
    Ternyata pengemis juga bisa jadi profesi ya…?
    Good Share

    Reply to this comment
  5. tule

    Feb 01. 2012

    Syukur alhamdulillah kalo ada org yg bisa berubah atas sedekah yg kita berikan. Tangan di atas memang lebih baik daeng

    Reply to this comment
    • tqdr

      Feb 01. 2012

      Iye, om..dan apa yang kita keluarkan untuk orang lain, hakekatnya merupakan harta orang lain yang dititipkan kepada kita.
      makasih om sudah berkunjung :D

      Reply to this comment

Leave a Reply